Satu minggu yang lalu Pak R. Dalhar Pilihanto, M.pd guru B. Indonesia kelas XI-2 memberikan tugas, yakni memproduksi teks cerpen untuk menambah nilai ulangan harian pertama kami yang belum memuaskan. Tapi, menurutku tugas kami lebih tepatnya adalah menyambung teks cerpen. Karena cerpennya sudah ditentukan, kita hanya melanjutkan cerita tersebut sesuai keinginan kita. Dan inilah hasil cerpenku :
Meraih Impian
1. Terusik lamunanku saat terngiang sebaris kata ayah yang selalu berulang menelusup
ke telingaku, “Nanda, kamu pasti bisa!” Kata-kata ayahku laksana dentuman
meriam di rongga dadaku. Setiap kuingat kata-kata itu, semakin
berat beban yang kurasakan, terlebih, urutanku sebagai sulung dari lima
bersaudara. Tidak mudah bagiku untuk menjadi sulung. Kurasakan
pula beban kedua orang tuaku yang semakin menjadi. Ayah, di luar segala kewajibannya
sebagai PNS, terlibat aktif di dunia jurnalistik dan organisasi. Tidak
mengherankan jika bunda terpaksa turun tangan untuk menopang keuangan keluarga
dengan membuka sebuah warung kecil-kecilan.
2. Padatnya aktivitas ayah dan bunda terekam kuat dalam benakku. Kerja keras
seakan menjadi menu wajib bagiku. Namun, ada hal yang menjadi titik lemahku.
Dua kali tangisku pecah ketika cita-citaku tak tersampaikan. Pertama, ketika
gagal masuk fakultas kedokteran karena faktor biaya. Kuingat kata-kata bunda di
telingaku.
“Kita tak cukup uang untuk kamu masuk Fakultas Kedokteran. Sabar ya, Nak!”,
ucap Bunda lembut, tetapi pasti.
Kedua, ketika gagal mendaftar ke STPDN karena tinggi badan kurang.
Kegagalan itu tentu saja membuatku terluka. Ayah dan bunda tiada putusputusnya
membangkitkan diriku hingga kedua kakiku benar-benar mampu berpijak.
3. Untuk mengobati luka hatiku, kuputuskan untuk membantu bunda menjaga warung.
Sambil menjaga warung, sedikit demi sedikit belajar dari ketegaran bunda dalam
menghadapi kesulitan hidup. Sering bunda tidur larut karena harus menyambung
potongan perca menjadi sebuah bed cover untuk dijual. Bed cover itu dititipkan
di sebuah toko swalayan. Tiada pernah putus doaku kepada Sang Khalik agar bunda
senantiasa dikaruniai kesehatan lahir dan
batin.
4. Salah satu doaku terkabul. Suatu hari ayah memutuskan untuk berhenti
bekerja dan berorganisasi. Ayah mulai melirik dunia usaha. Sebagai langkah
awal, ayah melahap buku-buku sederet profil pengusaha sukses, sebut saja Bob
Sadino, Bill Gates, Steve Jobs, Richard Branson, Donald Trump, dan Elang
Gumilang. Benih pohon bisnis tumbuh pesat pula dalam diriku, terlebih setelah
aku menyerap isi beberapa buku yang menyampaikan motivasi.
5. Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris.
Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial
mendorongku untuk merambah dunia kerja di samping kuliah. Pucuk dicinta ulam
tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.
“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan
untuk membeli kios itu, lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.
Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian.
Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.
Bunda berkunjung ke tokoku dan dia
memuji, “Wah, ternyata Nanda sudah meraup banyak untung nih”.
Kesibukan berbisnis tidak melemahkan
prestasi di ranah akademis. Aku berhasil mempertahankan semuanya dengan hasil yang memukau.
6. Seiring waktu, jaringan bisnisku
meluas. Padatnya jadwal ceramah ayah sebagai motivator mendorongku untuk
membantunya. Jadilah aku berkiprah dalam dunia event organizer. Lahan bisnis
ini menuai sukses yang tergolong gemilang. Jaringan konsumen luas semakin
membuka peluang untuk berkiprah di bidang lain. Usaha penjualan tiket pesawat
pun kulakoni hingga membuahkan beberapa kantor cabang di berbagai kota di
negeri ini.
7. Kesuksesan ini tidak patut
membuatku angkuh, terutama di hadapan Tuhan. Hanya karena ridha-Nya aku dapat
meraih semuanya. Tidak luput bimbingandan motivasi dari kedua orang tuaku turut
membuatku tegar dalam berbagai kesulitan.
8. Dalam kurun waktu 3 tahun, hasil
kerja keras ku ini dapat kubagikan pada orang-orang disekitarku. Untuk ayah,
bunda, dan keempat adikku. Alhamdulillah, ayah dan bunda dapat pergi ke tanah
suci menunaikan rukun islam yang terakhir. Sungguh, saat itu hatiku bahagia dan
bangga tidak terkira. Aku yakin itu adalah salah satu mimpi terbesar anak-anak
saleh dan salehah untuk kedua orang tuanya.
9. Tanpa kami ketahui ayah mengidap
penyakit hipertensi. Sampai suatu hari titik terlemah beliau datang. Ayah
mengalami stroke. Betapa terguncangnya hatiku, ayah yang selama ini penuh
dengan semangat kini hanya terbaring lemah di ruangan kotak ini.
10. Entah kenapa dengan sakitnya ayah
konsentrasiku terganggu. Pendapatan bisnisku pun menurun. Banyak kerugian yang
kami tanggung. Banyak pesaing baru yang pastinya memiliki inovasi baru pula. Disinilah
roda kami berputar. Saat ini kami berada di sekitar bagian bawah roda. Hal ini
berlangsung dalam beberapa bulan.
11. Satu hal lagi yang membuatku
berpikir keras. Aku tidak ingin adik-adikku terganggu dengan usahaku yang boleh
dibilang mulai bangkrut. Tapi, dalam beberapa minggu ini mereka agak sungkan
untuk meminta sesuatu padaku. Contohnya adikku yang meminta sejumlah uang untuk
membayar biaya kuliahnya. Sungguh berat ia mengatakannya padaku.
“Kak, Ena perlu uang untuk biaya
kuliah.” Ena menemuiku dua hari yang lalu dengan wajah tertunduk.
“Iya, En. Kakak usahakan minggu depan
uangnya ada.” Ucapku tanpa mematahkan semangatnya.
“Makasih kak. Maaf juga Ena membuat
kakak susah” Meski dengan wajah bahagia ia mengucapkannya, aku dapat melihat
sorotan matanya yang masih tidak enak denganku. Oh, andaikan kalian tahu semua
yang ku kerjakan dan ku lakukan ini hanya untuk kalian.
12. Bunda tak henti-hentinya
menyemangatiku, begitu juga ayah. Meskipun sekarang hanya dengan kata-kata, itu
sudah lebih dari cukup. Sekarang kami hanya dapat saling mendoakan. Aku selalu mendoakan
kesehatan ayah, dan ayah selalu mendoakan kesuksesanku.
13. Kucoba untuk menata kembali
bisnisku ini. Dengan semangat kerja keras yang diberikan oleh keluargaku. Roda
kami akhirnya bergerak naik kembali meskipun lambat dan tidak terlalu menonjol.
Setidaknya, kebutuhan untuk keluargaku dapat aku penuhi.
14. Ayah, pahlawanku meninggalkan kami
di malam yang sepi untuk menghadap sang khalik. Betapa hancurnya perasaan kami.
Untuk beberapa saat kakiku terasa tidak menapak. Ibu mencoba menenangkanku. Malam
itu air mataku tumpah di depan ayah yang sudah pergi dengan diam.
15. “Nanda, ayah sangat bangga pada kamu
nak. Jangan kamu merasa permasalahan tidak ada jalan keluarnya. Itu ada, Nanda.
Pasti ada. Asal kamu terus berusaha dan tidak meninggalkan kewajibanmu sebagai
seorang muslim. Terimakasih atas semuanya. Terimakasih untuk pengorbananmu.
Kami sangat menyayangimu.”
Percakapanku dengan ayah kembali
terputar diingatanku. Sudah dua bulan sejak kepergian ayah. Bisnisku kembali
mendapatkan tempatnya. Ya, berkat kerja keras dan doa.
16. Aku memulai lagi bisnisku yang
sempat terpuruk. Kami bekerjasama membentuk produk inovatif lainnya.
Selanjutnya, mengenai pemasaran. Kami mencoba membuat jembatan panjang kepada
konsumen sampai menembus Malaysia dan Singapura. Hal itu berhasil, banyak
konsumen luar yang tertarik dengan produk kami.
17. Tahun berikutnya, aku kembali
memperluas pemasaran kami meliputi negara-negara Eropa. Tidak mengecewakan,
banyak dari mereka memesan produk kami. Terlebih berkat keterampilanku dalam
berbahasa inggris. Dalam 2 bulan kami mendapat pesanan ± 1.500 produk. Itu
sungguh pencapaian yang luar biasa.
18. Tiba saatnya aku mengisahkan kisah
hidupku pada malaikat-malaikat kecilku.
“Fe juga mau seperti mama” Fe putri
sulungku sangat tertarik mendengar ceritaku.
“Bisa Fe. Ingat kata kakek kerja keras
dan doa”
Sepuluh tahun sudah semenjak bisnisku
kembali naik dari keterpurukannya. Kerikil-kerikil kecil dan batu yang sedang
pun masih bisa ku tabrak. Tapi aku berusaha untuk mencari titik terang dari
semua permasalahanku. Kini ketiga adikku sudah menekuni kerja dibidangnya
masing-masing. Salah satunya mengikuti jejakku sebagai wirausahawan. Sedangkan
adik bungsuku sudah memasuki semester 5. Aku pun memulai keluarga kecilku 7
tahun yang lalu. Satu putri cantik dan dua pangeran kembar. Puncak
kebahagiaanku.
Ibu pergi menyusul ayah dua bulan yang
lalu. Kehilangan terbesarku adalah saat kedua semangatku itu pergi. Tak akan
sedikit pun ku coba melupakan semangat dan perjuangan mereka. Orang tua yang
sangat berjasa dalam keberhasilanku.
19. Jalan lurus pun dapat membuat kita
jatuh jika kita tidak berhati-hati. Aku percaya kita dapat mewujudkan mimpi
kita tanpa hanya menjadikannya angan-angan dengan adanya motivasi, inovasi, dan
kreativitas. Motivasi yang ku dapat yakni dari keluargaku. Inovasi yang ku
dapat berasal dari rasa tidak ingin kalah dari hasil orang lain. Sedangkan
kreativitas ku dapat dalam proses melihat, merasakan, dan belajar dari
pengalamn hidup orang-orang disekitarku. Aku percaya saat kita mau belajar dari
pengalaman, hal itu dapat membuat kita menjadi lebih baik lagi nantinya.
Terimakasih..
nilai terkandung nya apa aja?
BalasHapusgaya bahasa mana???
BalasHapus