Selasa, 30 September 2014

Memproduksi Teks Cerpen 'Meraih Impian'



       Satu minggu yang lalu Pak R. Dalhar Pilihanto, M.pd guru B. Indonesia kelas XI-2 memberikan tugas, yakni memproduksi teks cerpen untuk menambah nilai ulangan harian pertama kami yang belum memuaskan. Tapi, menurutku tugas kami lebih tepatnya adalah menyambung teks cerpen. Karena cerpennya sudah ditentukan, kita hanya melanjutkan cerita tersebut sesuai keinginan kita. Dan inilah hasil cerpenku : 

Meraih Impian

1. Terusik lamunanku saat terngiang sebaris kata ayah yang selalu berulang menelusup ke telingaku, “Nanda, kamu pasti bisa!” Kata-kata ayahku laksana dentuman meriam di rongga dadaku. Setiap kuingat kata-kata itu, semakin berat beban yang kurasakan, terlebih, urutanku sebagai sulung dari lima bersaudara. Tidak mudah bagiku untuk menjadi sulung. Kurasakan
pula beban kedua orang tuaku yang semakin menjadi. Ayah, di luar segala kewajibannya sebagai PNS, terlibat aktif di dunia jurnalistik dan organisasi. Tidak mengherankan jika bunda terpaksa turun tangan untuk menopang keuangan keluarga dengan membuka sebuah warung kecil-kecilan.

2. Padatnya aktivitas ayah dan bunda terekam kuat dalam benakku. Kerja keras seakan menjadi menu wajib bagiku. Namun, ada hal yang menjadi titik lemahku. Dua kali tangisku pecah ketika cita-citaku tak tersampaikan. Pertama, ketika gagal masuk fakultas kedokteran karena faktor biaya. Kuingat kata-kata bunda di telingaku.

“Kita tak cukup uang untuk kamu masuk Fakultas Kedokteran. Sabar ya, Nak!”, ucap Bunda lembut, tetapi pasti. 

Kedua, ketika gagal mendaftar ke STPDN karena tinggi badan kurang. Kegagalan itu tentu saja membuatku terluka. Ayah dan bunda tiada putusputusnya membangkitkan diriku hingga kedua kakiku benar-benar mampu berpijak.

3. Untuk mengobati luka hatiku, kuputuskan untuk membantu bunda menjaga warung. Sambil menjaga warung, sedikit demi sedikit belajar dari ketegaran bunda dalam menghadapi kesulitan hidup. Sering bunda tidur larut karena harus menyambung potongan perca menjadi sebuah bed cover untuk dijual. Bed cover itu dititipkan di sebuah toko swalayan. Tiada pernah putus doaku kepada Sang Khalik agar bunda senantiasa dikaruniai kesehatan lahir dan
batin.

4. Salah satu doaku terkabul. Suatu hari ayah memutuskan untuk berhenti bekerja dan berorganisasi. Ayah mulai melirik dunia usaha. Sebagai langkah awal, ayah melahap buku-buku sederet profil pengusaha sukses, sebut saja Bob Sadino, Bill Gates, Steve Jobs, Richard Branson, Donald Trump, dan Elang Gumilang. Benih pohon bisnis tumbuh pesat pula dalam diriku, terlebih setelah aku menyerap isi beberapa buku yang menyampaikan motivasi.

5. Dua kegagalan yang lalu berakhir ketika aku diterima di jurusan bahasa Inggris. Kutekuni masa pendidikan tinggi dengan sepenuh hati. Kendala finansial mendorongku untuk merambah dunia kerja di samping kuliah. Pucuk dicinta ulam tiba. Suatu hari Kak Ica, saudara sepupuku, datang kepadaku.

“Nanda, di sebelah toko Bunda ada kios yang dijual. Bagaimana kalau kita patungan untuk membeli kios itu, lalu kita jual pakaian di sana?” kata Kak Ica.

Ia mengajak berpatungan untuk membeli kios itu. Kami mulai berbisnis pakaian. Tidak kusangka, usaha itu menuai hasil yang gemilang.

Bunda berkunjung ke tokoku dan dia memuji, “Wah, ternyata Nanda sudah meraup banyak untung nih”.

Kesibukan berbisnis tidak melemahkan prestasi di ranah akademis. Aku berhasil mempertahankan  semuanya dengan hasil yang memukau.

6. Seiring waktu, jaringan bisnisku meluas. Padatnya jadwal ceramah ayah sebagai motivator mendorongku untuk membantunya. Jadilah aku berkiprah dalam dunia event organizer. Lahan bisnis ini menuai sukses yang tergolong gemilang. Jaringan konsumen luas semakin membuka peluang untuk berkiprah di bidang lain. Usaha penjualan tiket pesawat pun kulakoni hingga membuahkan beberapa kantor cabang di berbagai kota di negeri ini.

7. Kesuksesan ini tidak patut membuatku angkuh, terutama di hadapan Tuhan. Hanya karena ridha-Nya aku dapat meraih semuanya. Tidak luput bimbingandan motivasi dari kedua orang tuaku turut membuatku tegar dalam berbagai kesulitan.

8. Dalam kurun waktu 3 tahun, hasil kerja keras ku ini dapat kubagikan pada orang-orang disekitarku. Untuk ayah, bunda, dan keempat adikku. Alhamdulillah, ayah dan bunda dapat pergi ke tanah suci menunaikan rukun islam yang terakhir. Sungguh, saat itu hatiku bahagia dan bangga tidak terkira. Aku yakin itu adalah salah satu mimpi terbesar anak-anak saleh dan salehah untuk kedua orang tuanya.

9. Tanpa kami ketahui ayah mengidap penyakit hipertensi. Sampai suatu hari titik terlemah beliau datang. Ayah mengalami stroke. Betapa terguncangnya hatiku, ayah yang selama ini penuh dengan semangat kini hanya terbaring lemah di ruangan kotak ini.

10. Entah kenapa dengan sakitnya ayah konsentrasiku terganggu. Pendapatan bisnisku pun menurun. Banyak kerugian yang kami tanggung. Banyak pesaing baru yang pastinya memiliki inovasi baru pula. Disinilah roda kami berputar. Saat ini kami berada di sekitar bagian bawah roda. Hal ini berlangsung dalam beberapa bulan.

11. Satu hal lagi yang membuatku berpikir keras. Aku tidak ingin adik-adikku terganggu dengan usahaku yang boleh dibilang mulai bangkrut. Tapi, dalam beberapa minggu ini mereka agak sungkan untuk meminta sesuatu padaku. Contohnya adikku yang meminta sejumlah uang untuk membayar biaya kuliahnya. Sungguh berat ia mengatakannya padaku.

“Kak, Ena perlu uang untuk biaya kuliah.” Ena menemuiku dua hari yang lalu dengan wajah tertunduk.
“Iya, En. Kakak usahakan minggu depan uangnya ada.” Ucapku tanpa mematahkan semangatnya.
“Makasih kak. Maaf juga Ena membuat kakak susah” Meski dengan wajah bahagia ia mengucapkannya, aku dapat melihat sorotan matanya yang masih tidak enak denganku. Oh, andaikan kalian tahu semua yang ku kerjakan dan ku lakukan ini hanya untuk kalian.

12. Bunda tak henti-hentinya menyemangatiku, begitu juga ayah. Meskipun sekarang hanya dengan kata-kata, itu sudah lebih dari cukup. Sekarang kami hanya dapat saling mendoakan. Aku selalu mendoakan kesehatan ayah, dan ayah selalu mendoakan kesuksesanku.

13. Kucoba untuk menata kembali bisnisku ini. Dengan semangat kerja keras yang diberikan oleh keluargaku. Roda kami akhirnya bergerak naik kembali meskipun lambat dan tidak terlalu menonjol. Setidaknya, kebutuhan untuk keluargaku dapat aku penuhi.

14. Ayah, pahlawanku meninggalkan kami di malam yang sepi untuk menghadap sang khalik. Betapa hancurnya perasaan kami. Untuk beberapa saat kakiku terasa tidak menapak. Ibu mencoba menenangkanku. Malam itu air mataku tumpah di depan ayah yang sudah pergi dengan diam.


15. “Nanda, ayah sangat bangga pada kamu nak. Jangan kamu merasa permasalahan tidak ada jalan keluarnya. Itu ada, Nanda. Pasti ada. Asal kamu terus berusaha dan tidak meninggalkan kewajibanmu sebagai seorang muslim. Terimakasih atas semuanya. Terimakasih untuk pengorbananmu. Kami sangat menyayangimu.”

Percakapanku dengan ayah kembali terputar diingatanku. Sudah dua bulan sejak kepergian ayah. Bisnisku kembali mendapatkan tempatnya. Ya, berkat kerja keras dan doa.

16. Aku memulai lagi bisnisku yang sempat terpuruk. Kami bekerjasama membentuk produk inovatif lainnya. Selanjutnya, mengenai pemasaran. Kami mencoba membuat jembatan panjang kepada konsumen sampai menembus Malaysia dan Singapura. Hal itu berhasil, banyak konsumen luar yang tertarik dengan produk kami.

17. Tahun berikutnya, aku kembali memperluas pemasaran kami meliputi negara-negara Eropa. Tidak mengecewakan, banyak dari mereka memesan produk kami. Terlebih berkat keterampilanku dalam berbahasa inggris. Dalam 2 bulan kami mendapat pesanan ± 1.500 produk. Itu sungguh pencapaian yang luar biasa.

18. Tiba saatnya aku mengisahkan kisah hidupku pada malaikat-malaikat kecilku.

“Fe juga mau seperti mama” Fe putri sulungku sangat tertarik mendengar ceritaku.
“Bisa Fe. Ingat kata kakek kerja keras dan doa”

Sepuluh tahun sudah semenjak bisnisku kembali naik dari keterpurukannya. Kerikil-kerikil kecil dan batu yang sedang pun masih bisa ku tabrak. Tapi aku berusaha untuk mencari titik terang dari semua permasalahanku. Kini ketiga adikku sudah menekuni kerja dibidangnya masing-masing. Salah satunya mengikuti jejakku sebagai wirausahawan. Sedangkan adik bungsuku sudah memasuki semester 5. Aku pun memulai keluarga kecilku 7 tahun yang lalu. Satu putri cantik dan dua pangeran kembar. Puncak kebahagiaanku.

Ibu pergi menyusul ayah dua bulan yang lalu. Kehilangan terbesarku adalah saat kedua semangatku itu pergi. Tak akan sedikit pun ku coba melupakan semangat dan perjuangan mereka. Orang tua yang sangat berjasa dalam keberhasilanku.

19. Jalan lurus pun dapat membuat kita jatuh jika kita tidak berhati-hati. Aku percaya kita dapat mewujudkan mimpi kita tanpa hanya menjadikannya angan-angan dengan adanya motivasi, inovasi, dan kreativitas. Motivasi yang ku dapat yakni dari keluargaku. Inovasi yang ku dapat berasal dari rasa tidak ingin kalah dari hasil orang lain. Sedangkan kreativitas ku dapat dalam proses melihat, merasakan, dan belajar dari pengalamn hidup orang-orang disekitarku. Aku percaya saat kita mau belajar dari pengalaman, hal itu dapat membuat kita menjadi lebih baik lagi nantinya.

Terimakasih..

2 komentar: